Jumat, 11 Oktober 2019

PENDAHULUAN DAN RUANG LINGKUP MANAJEMEN SDM


PENDAHULUAN DAN RUANG LINGKUP MANAJEMEN SDM

1.      Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata kerja to manage yang arti nya mengurus, mengatur, melaksanakan dan mengelola.
 Makna manajemen dalam kehidupan sehari-hari dapat dibedakan kedalam tiga pengertian, yaitu :
1.      Manajemen sebagai proses, yaitu proses pencapaian tujuan bersama melalui kegiatan orang lain yang dibimbing dan dikemdalikan.
2.      Manajemen yang dilakukan secara objektik,yang berarti sebagai lembaga atau organisasi.
3.      Manajemen sebagai ilmu (science) dan sekaligus juga sebagai seni (art).
Dan pendapat para pakar diatas, dapat disimpulkan bahwa manajemen mengandung beberapa komponen atau unsur, yaitu:
a.     Ada tujuan yang ingin dicapai.
b.     Ada kegiatan perencanaan yang dilakukan.
c.     Ada kegiatan pengorganisasian.
d.     Ada kegiatan pengarahan.
e.     Ada kegiatan pengkoordinasian.
f.      Ada kegiatan pengendalian.

2.       Fungsi-Fungsi Manajemen
Dalam Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait erat di dalamnya. Pada umumnya ada empat (4) fungsi manajemen yang banyak dikenal masyarakat yaitu :
1.          Fungsi Perencanaan (Planning)
Fungsi perencanaan adalah suatu kegiatan membuat tujuan perusahaan dan diikuti dengan membuat berbagai rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan tersebut.

2.          Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
 Fungsi perngorganisasian adalah suatu kegiatan pengaturan pada sumber daya manusia dan sumberdaya fisik lain yang dimiliki perusahaan untuk menjalankan rencana yang telah ditetapkan serta menggapai tujuan perusahaan.
3.          Fungsi Pengarahan (Directing)
Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja secara maksimal serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis, dan lain sebagainya.
4.          Fungsi Pengendalian (Controlling)
Fungsi pengendalian adalah suatu aktivitas menilai kinerja berdasarkan standar yang telah dibuat untuk kemudian dibuat perubahan atau perbaikan jika diperlukan.
Untuk fungsi pengorganisasian terdapat pula fungsi staffing (pembentukan staf). Para manajer dalam organisasi perusahaan bisnis diharapkan mampu menguasai semua fungsi manajemen yang ada untuk mendapatkan hasil manajemen yang maksimal.

 3.      Pengertian Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia atau biasa disingkat menjadi SDM potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan berkelanjutan. Dalam pengertian praktis sehari-hari, SDM lebih dimengerti sebagai bagian integral dari sistem yang membentuk suatu organisasi. Oleh karena itu, dalam bidang kajian psikologi, para praktisi SDM harus mengambil penjurusan industri dan organisasi.
Sebagai ilmu, SDM dipelajari dalam manajemen sumber daya manusia atau (MSDM). Dalam bidang ilmu ini, terjadi sintesa antara ilmu manajemen dan psikologi. Mengingat struktur SDM dalam industri-organisasi dipelajari oleh ilmu manajemen, sementara manusia-nya sebagai subyek pelaku adalah bidang kajian ilmu psikologi. 
Pengertian manajemen sumber daya manusia
MSDM adalah penarikan, seleksi, pengembangan, pemeliharaan, dan penggunaan SDM untuk mencapai tujuan-tujuan baik individu maupun organisasi.
Menurut Agus Suntoyo (2008, hl 5), Manajemen Sumber Daya Manusia dapat didefinisikan sebagai serangkaian tindakan dalam hal pemikiran, seleksi, pengembangan, pemeliharaan, dan pengembangan sumber daya manusia-bukan sumber dayanya yang lainnya-untuk mencapai tujuan, baik tujuan individu, maupun organisasi.
Sedangkan Manajemen Personalia (MP) yang diperlukan untuk meningkatkan efektifitas sumberdayanya manusia dalam organisasi. Tujuannya adalah untuk memberikan kepada organisasi suatu kerja yang efektif. Untuk mencapai tujuan itu, studi tentang manajemen personalia menunjukan bagaimana seharusnya perusahaan mendapatkan, mengembangkan, mengevaluasi, dan memelihara karyawan dalam jumlah (kuantitas) dan susunan keterampilan (kualitas) yang tepat.
Manajemen Sumber Daya Manusia dengan Manajemen Personalia jelas terdapat perbedaan didalam ruang lingkup dan tingkatannya. MSDM mencakup permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan, penggunaan dan perlindungan sumber dayanya manusia.
Sedangkan Manajemen Personalia lebih banyak berkaitan dengan sumber dayanya manusia yang sudah berada dalam organisasi (perusahaan). Tugas manajemen personalia adalah mempelajari dan mengembangkan cara-cara agar unsur manusia dapat secara efektif diintegrasikan kedalam berbagai unit organisasi guna mencapai tujuan dari organisasi itu.
Dapat disimpulkan secara keseluruhan bahwa Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu desain sistem yang formal di dalam suatu organisasi, untuk menjamin tercapainya tingkat efisiensi dan efektifitas dalam pemanfaatan dan penggunaan kemampuan dan kompetensi manusia untuk mencapai tujuan organisasi. 

4.      Fungsi-Fungsi Operasional SDM
Fungsi operasional dalam Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan basic (dasar) pelaksanaan proses MSDM yang efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan organisasi/perusahaan. Fungsi operasional tersebut terbagi 8 (delapan), secara singkat sebagai berikut :
1.          Perencanaan (Planning) adalah proses penentuan langkah-langkah yang akan dilakukan di masa datang. Fungsi perencanaan meliputi :
a.       Menganalisis pekerjaan yang ada.
b.      Menyusun uraian pekerjaan.
c.       Menyusun persyaratan pekerjaan.
d.      Menentukan sumber-sumber penarikan SDM.
2.      Pengadaan (Procrutment) adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Fungsi pengadaan meliputi :
a.       Mengumumkan dan menerima surat lamaran.
b.      Melakukan seleksi.
c.       Melakukan orientasi dan pelatihan pratugas.
d.      Pengangkatan SDM.
e.       Penempatan SDM
3.      Pengembangan (Development) adalan proses peningkatan ketrampilan teknis, teoristik, konseptual dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan. Fungsi pengembangan meliputi :
a.       Penilaian prestasi kerja.
b.      Perencanaan karir.
c.       Pendidikan dan pelatihan.
d.      Pemberian tugas.
e.       Mutasi dan promosi.
f.       Motivasi dan disiplin kerja.
4.      Kompensasi (Compesation) adalan pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak langsung (inderct), uang atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang diberikannya kepada perusahaan. Fungsi kompensasi meliputi :
a.       Penggajian dan pengupahan.
b.      Pemberian tunjangan-tunjangan.
c.       Pangkat dan jabatan.
d.      Pemberian penghargaan.
5.      Pengintegrasian (Integration) adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerjasama yang serasi dan saling menguntungkan.
6.      Pemeliharaan (Maintenance) adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan, agar mereka bekerja sama sampai pensiun. Fungsi pemeliharaan meliputi :
a.       Pemeliharaan kebugaran fisik dan jiwa raga.
b.      Pemeliharaan keamanan dan keselamatan kerja.
c.       Pemberian jaminan perumahan.
d.      Pemeliharaan kesehatan.
e.       Pemeliharaan kesejahteraan rumah tangga SDM.
7.      Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk menaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-norma social.
8.      Pemberhentian (separation) adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari suatu perusahan. Dalam fungsi ini manajer SDM mengatur hak-hak para pensiun yang dapat diberikan kepada mereka yang telah berjasa besar terhadap perusahaan.

5.       Variabel-Variabel Lain yang Mempengaruhi Keberhasilan Organisasi
Dari uraian di atas dapat diketahui selain keadilan dalam mengelola SDM keberhasilan organisasi juga di pengaruhi oleh karakteristik organisasi, karakteristik pekerjaan, karakteristik individu, sikap dan perilaku karyawan, secara langsung maupun tidak langsung
1.      Karakteristik Individu
Karakter individu terdiri atas jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, masa kerja, status perkawinan,, jumlah tanggungan, dan posisi, peneliti peneliti dalam bidang manajemen SDM  dan perilaku organisasi banyak melakukan penelitian tentang hubungan  karakteristik individu dengan sikap dan perilaku karyawan (panggabean,2001;2002)
2.      Karakteristik Organisasi
Karakteristik organisasi meliputi kompleksitas , formalisasi ,dan sentralisasi kompleksitas mencerminkan jumlah unit yang ada dalam organisasi formalisasi merujuk kepada banyaknya pelaksanaan tugas yang bersandarkan kepada peraturan , sedangkan sentralisasi  di definisikan sebagai  siapa yang dapat mengambil keputusan (pemimpin atau pelaksana) sentralisasi ada jika keputusan di tangan pemimpin, sebaliknya akan di katakana ada desentralisasi jika jawaban tentang apa, bagaimana, kapan, dan dengan siapa pekerjaan akan dilaksanakan diputuskan oleh pelaksana semakin banyak pertanyaan itu dapat di jawab sendiri oleh pelaksana maka semakin dapat dikatakan ada desentralisasi, bagaiman pengaruh karakteristik organisasi terhadap sikap dan perilaku karyawan banyak di lakukan oleh para peneliti di bidang teori organisasi dan perilaku organisasi (Melcher 1976)
3.      Karakteristik Pekerjaan
Karakteristik pekerjaan terdiri atas keanekaragaman tugas, identitas tugas, keberartian tugas,otonomi dan umpan balik  berbagai penelitian dalam bidang manajemen SDM dan perilaku organisasi banyak meneliti  hubungan antara karakteristik tugas dan perilaku.
Berikut dibahas pengertian dari masing masing konsep :
a.       Keanekaragaman Tugas
Merujuk kepada adanya kemungkinan bagi karyawan untuk melaksanakan kegiatan , prosedur, dan bahkan peralatan yang berbeda pekerjaan yang beraneka ragam biasanya di pandang sebagai pekerjaan yang menantang  karena mereka menggunakan keterampilan.
b.      Identitas Tugas
Memungkinkan karyawan mengerjakan sebuah pekerjaan secara menyeluruh sangat terspesialisasi cenderung menciptakan tugas yang rutin  dan mengakibatkan seseorang hanya mengerjakan satu bagian saja dari keseluruhan pekerjaan , hal ini menimbulkan adanya perasaan tidak melakukan apa-apa oleh karena itu  dengan memperluas tugas-tugas yang dapat meningkatkan perasaan mangerjakan seluruh pekerjaan berarti meningkatkan identitas tugas.
c.       Keberartian Tugas
Merujuk kepada besarnya pengaruh dari pekerjaan yang di lakukan seseorang terhadap pekerjaan orang lain. Sangat penting bagi seseorang untuk mempunyai perasaan melakukan pekerjaan yang sangat berarti bagi perusahaan maupun masyarakat untuk itu adalah penting apabila pemimpin memberitahukan di depan orang lain bahwa pekerjaannya sangat berarti bagi perusahaan.
d.      Otonomi
Merujuk kepada adanya ide bahwa karyawan  dapat mengendalikan sendiri tugas tugasnya hal ini penting untuk menimbulkan rasa tanggung jawab. Cara yang umum di pakai adalah melalui manajemen berdasarkan sasaran karena dengan cara ini karyawan memiliki kesempatan untuk menentukan sendiri tujuan pribadi dan tujaun kerjanya.
e.       Umpan balik
Merujuk kepada informasi yang diterima oleh pekerja tentang seberapa baiknya ia melaksanakan tugasnya. Penelitian tentang hubungan karakteristik pekerjaan dengan sikap dan perilaku organisasi banyak dilakukan oleh peneliti di bidang MSDM dan perilaku organisasi.

6.     Sikap Kerja
Didalam kamus bahasa Indonesia menjelaskan sikap adalah perbuatan dan sebagainya yang berdasarkan pendirian (Wjs. Poerwadarminta,2002:944).
Sedangkan kerja adalah melakukan sesuatu (Wjs. Poerwadarminta, 2002:492).
Loyal adalah patuh, setia (Wjs. Poerwadarminta, 2002:609). Dari pengertian diatas, kesimpulannya adalah suatu kecenderungan karyawan untuk pindah ke perusahaan lain.
Menurut pengertian dari Agus Maulana, sikap kerja karyawan adalah cara kerja karyawan didalam mengkomunikasikan suasana karyawan kepada pimpinan ataupun perusahaan. Karyawan merasakan adanya kesenangan yang mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Fasilitas – fasilitas yang diterima oleh karyawan sehingga karyawan mau bekerja sebaik mungkin dan tetap loyal pada perusahaan, hendaknya perusahaan memberikan imbalan yang sesuai kepada karyawannya. Semua itu tergantung pada situasi dan kondisi perusahaan tersebut serta tujuan yang ingin dicapai.
Untuk itu perusahaan mengemukakan beberapa cara
:
a.       Gaji yang cukup.
b.      Memberikan kebutuhan rohani.
c.       Sesekali perlu menciptakan suasana santai.
d.      Menempatkan karyawan pada posisi yang tepat.
e.       Memberikan kesempatan pada karyawan untuk maju.
f.       Memperhatikan rasa aman untuk menghadapi masa depan.
g.      Mengusahakan karyawan untuk mempunyai loyalitas.
h.      Sesekali mengajak karyawan berunding.
i.        Memberikan fasilitas yang menyenangkan. (Nitisemito, 1991:167).
Sebab – sebab turunnya loyalitas dan sikap kerja itu dikarenakan banyak sebab misalnya, upah yang mereka terima tidak sesuai dengan pekerjaannya, tidak cocoknya dengan gaya perilaku pemimpin, lingkungan kerja yang buruk dan sebagainya.
Untuk memecahkan persoalan tersebut, maka perusahaan harus dapat menemukan penyebab dari turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan itu disebabkan pada prinsipnya turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan itu disebabkan oleh ketidakpuasan para karyawan. Adapun sumber ketidakpuasan bisa bersifat material dan non material yang bersifat material antara lain: rendahnya upah yang diterima, fasilitas minimum. Sedangkan yang non material
antara lain: penghargaan sebagai manusia, kebutuhan – kebutuhan yang berpartisipasi dan sebagainya (S. Alex Nitisemito, 1991:167). 
Indikasi – indikasi turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan antara lain :
1.          Turun/ rendahnya produktivitas kerja.
Turunnya produktivitas kerja ini dapat diukur atau diperbandingkan dengan waktu sebelumnya. Produktivitas kerja yang turun ini dapat terjadi karena kemalasan atau penundaan kerja.
2.          Tingkat absensi yang naik.
Pada umumnya bila loyalitas dan sikap kerja karyawan turun, maka karyawan akan malas untuk datang bekerja setiap hari. Bila ada gejala – gejala absensi naik maka perlu segera dilakukan penelitian.
3.          Tingkat perpindahan buruh yang tinggi.
Keluar masuknya karyawan yang meningkat tersebut terutama adalah karena tidak senangnya para karyawan bekerja pada perusahaan. Untuk itu mereka berusaha mencari pekerjaan lain yang dianggap sesuai. Tingkat perpindahan buruh yang tinggi selain dapat menurunkan produktivitas kerja, juga dapat mempengaruhi kelangsungan jalannya perusahaan.
4.          Kegelisahan dimana – mana.
Loyalitas dan sikap kerja karyawan yang menurun dapat menimbulkan kegelisahan sebagai seorang pemimpin harus mengetahui bahwa adanya kegelisahan itu dapat terwujud dalam bentuk ketidak terangan dalam bekerja, keluh kesah serta hal – hal yang lain.
5.          Tuntutan yang sering terjadi.
Tuntutan yang sebetulnya merupakan perwujudan dan ketidakpuasan, dimana pada tahap tertentu akan menimbulkan keberanian untuk mengajukan tuntutan.
6.          Pemogokan.
Tingkat indikasi yang paling kuat tentang turunnya loyalitas dan sikap kerja karyawan adalah pemogokan. Biasanya suatu perusahaan yang karyawannya sudah tidak merasa tahan lagi hingga memuncak, maka hal itu akan menimbulkan suatu tuntutan, dan bilamana tuntutan tersebut tidak berhasil, maka pada umumnya para karyawan melakukan pemogokan kerja. (S. Alex Nitisemito,1991:163 – 166).

Pada kategori usia para karyawan yang berbeda menunjukkan aksentuasi loyalitas yang berbeda pula seperti uang diuraikan berikut ini :
1.          Angkatan kerja yang usianya di atas lima puluh tahun menunjukkan loyalitas yang tinggi pada organisasi. Mungkin alasan – alasan yang menonjol ialah bahwa mereka sudah mapan dalam kekaryaannya, penghasilan yang memadai, memungkinkan mereka menikmati taraf hidup yang dipandangnya layak. Banyak teman dalam organisasi, pola karirnya jelas, tidak ingin pindah, sudah “terlambat” memulai karier kedua, dan dalam waktu yang tidak terlalu lama akan memasuki usia pensiun.
2.          Tenaga kerja yang berada pada kategori usia empat puluhan menunjukkan loyalitas pada karir dan jenis profesi yang selama ini ditekuninya. Misalnya, seseorang yang menekuni karir di bidang keuangan akan cenderung “ bertahan” pada bidang tersebut meskipun tidak berarti menekuninya hanya dalam organisasi yang sama. Karena itu pindah ke profesi lain, tetapi bergerak di bidang yang sama, bukanlah merupakan hal yang aneh. Barangkali alasan pokoknya terletak pada hasrat untuk benar – benar mendalami bidang tertentu itu karena latar belakang pendidikan dan pelatihan yang pernah ditempuh, bakat, minat, dan pengalaman yang memungkinkannya menampilkan kinerja yang memuaskan yang pada gilirannya membuka peluang untuk promosi, menambah penghasilan, dan meniti karir secara mantap.
3.          Tenaga kerja dalam kategori 30 – 40 tahun menunjukkan bahwa loyalitasnya tertuju pada diri sendiri. Hal ini dapat dipahami karena tenaga kerja dalam kategori ini masih terdorong kuat untuk memantapkan keberadaannya, kalau perlu berpindah dari satu organisasi ke organisasi lain dan bahkan mungkin juga dari satu profesi ke profesi lain. Di samping itu pula didukung oleh tingkat kebutuhan yang semakin lama semakin meningkat tetapi tidak diimbangi dengan pemasukan yang cukup sehingga banyak para pekerja yang mencari pekerjaan lain yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari.
4.          Bagi mereka yang lebih muda dari itu, makna loyalitas belum diserapi dan kecenderungan mereka masih lebih mengarah kepada gaya hidup santai, apabila mungkin disertai dengan kesempatan “berhura – hura” Pada kenyataan sehari – hari banyak sekali terjadi kecurangan – kecurangan yang dilakukan oleh para karyawan yang umumnya mempunyai umur relatif muda hal itu juga dipicu oleh tingkat angan – angan yang tinggi, tetapi tidak diiringi oleh tingkat kerajinan yang tinggi dari dalam dirinya sendiri, oleh karena itu tingkat penganggguran semakin lama semakin meningkat (S. Alex Nitisemito, 1991:170-171).
7.    Perilaku Karyawan
Perilaku adalah tingkah laku yang terdiri atas tingkah laku yang tidak dapat dari luar, misalnya keinginan untuk pindah (intent to leave) dan ada yang dengan jelas dilihat dari luar, misalnya perputaran tenaga kerja dan ketidakhadiran.
Dari teori dapat diketahui bahwa ketidakpuasan atau kepuasan yang rendah akan meningkatkan perputaran tenaga kerja dan ketidakhadiran.
Konsep-konsep ini paling sering digunakan untuk memahami semangat kerja karyawan (Talacchi, 1960).  Berikut diuraikan cara pengukurannya :
1.      Perputaran Tenaga Kerja
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur perputaran tenaga kerja sudah pernah dbahas dalam bab sebelumnya dimana datanya dapat diperoleh dari bagian personalia, namun karena untuk memperoleh data dari masing-masing karyawan yang dijadikan responden dalam penelitian pada umumnya sukar untuk diperoleh, maka untuk itu digunakan konsep perilaku yang tidak langsung dapat dilihat yaitu keinginan untuk pindah (intent to leave).
2.      Keinginan untuk Pindah
Keinginan untuk pindah dapat diukur dengan mengembangkan.
3.      Ketidakhadiran
Dari uraian sebelumnya dapat diketahui bahwa ketidakhadiran adalah kegagalan untuk hadir ditempat kerja pada hari kerja. Faktor-faktor penyebab perilaku ini banyak diteliti karena dapat mempengaruhi prestasi kerja.
4.      Hubungan Ketidakhadiran dengan Kepuasan Kerja
Penelitian tentang hubungan ketidakpuasan dengan ketidakhadiran adalah rumit. Pandangan tradisional mengemukakan bahwa ketidakhadiran disebabkan oleh ketidakpuasan (Porter and Steers, 1973), namun kemudian para peneliti mengemukakan bahwa ketidakhadiran yang menyebabkan ketidakpuasan kerja (Goodman and Atkin, 1984; Rhodes and Steers, 1990). Sehingga akhirnya ada pula yang mengemukakan bahwa hubungannya timbal balik (Clegg, 1983) dimana ia berpendapat bahwa dengan menggunakan beberapa pengujian yang berkelanjutan (few longitudinal test) ditemukan bahwa ketidakhadiran lebih sering mempengaruhi ketidakpuasan dan tidak sebaliknya.
5.      Hubungan Ketidakhadiran dengan Prestasi Kerja
Selain dengan kepuasan kerja, ketidakhadiran juga mempunyai hubungan yang negatif dengan prestasi kerja. Bycio (1992) mengemukakan bahwa ketidakhadiran dapat mengakibatkan rendahnya kinerja.
6.      Hubungan Ketidakhadiran dengan Gaya Kepemimpinan.
John dan Nicholson (1982) mengemukakan bahwa ketidakhadiran dapat mempengaruhi gaya kepemimpinan terhadap ketidakhadiran itu. Para pemimpin akan memberikan sanksi pada karyawan yang jarang masuk dan akan mengurangi pemberian penghargaan kepada mereka.
7.      Pengaruh Karakteristik Individu dan Kerumitan Pekerjaan Terhadap Hubungan Kepuasan Kerja dengan Ketidakhadiran, Prestasi Kerja dan Gaya Kepemimpinan.
Hubungan antara kepuasan kerja dengan ketidakhadiran pada umumnya dapat dipengaruhi oleh karakteristik individu, misalnya usia dan masa kerja (Nicholson, 1977), kerumitan pekerjaan (House dan Mitchell, 1974), dan gaya kepemimpinan (Clegg, 1983). Gaya kepemimpinan yang mendukung (supportive leadership) dapat menurunkan ketidakhadiran bagi pekerjaan yang sederhana dibandingkan dengan yang rumit.
8.      Alat ukur yang Digunakan.
Terlepas dari apakah sebagai penyebab atau sebagai akibat, ketidakhadiran, sebagaimana halnya dengan keinginan untuk pindah, konsep ini juga perlu diukur dengan sejumlah pertanyaan jika data ketidakhadiran dari masing-masing responden sulit untuk diperoleh.
Hammer dan Landau, 1982; Harisson dan Hulin, 1989 mengukur ketidakhadiran dengan menggunakan tiga macam data, yaitu :
1.      Waktu yang hilang (jumlah jam ketidakhadiran yang tidak dicatat).
2.      Frekuensi (jumlah waktu ketidakhadiran yang tidak tercatat).
3.      Ketidakhadiran yang tercatat (jumlah ketidakhadiran), data yang dipakai adalah data selama 12 bulan.

8.         Semangat Kerja
Hasley(2001) menyatakan bahwa semangat kerja atau moral kerja itu adalah sikap kesediaan perasaan yang memungkinkan seorang karyawan untuk menghasilkan kerja yang lebih banyak dan lebih tanpa menambah keletihan, yang menyebabkan karyawan dengan antusias ikut serta dalam kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha kelompok sekerjanya, dan membuat karyawan tidak mudah kena pengaruh dari luar, terutama dari orang-orang yang mendasarkan sasaran mereka itu atas tanggapan bahwa satu-satunya kepentingan pemimpin perusahaan itu terhadap dirinya untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya darinya dan memberi sedikit mungkin.

Aspek-aspek Semangat Kerja
:
Aspek-aspek semangat kerja perlu untuk dipelajari karena aspek-aspek ini mengukur tinggi-rendahnya semangat kerja.
Menurut Maier (1999, hl 184), ada empat aspek yang menunjukkan
seseorang mempunyai semangat kerja yang tinggi, yaitu:
1.      Kegairahan.
Seseorang yang memiliki kegairahan dalam bekerja berarti juga memiliki motivasi dan dorongan bekerja. Motivasi tersebut akan terbentuk bila seseorang memiliki keinginan atau minat dalam mengerjakan pekerjaannya. Yang lebih dipentingkan oleh karyawan adalah seharusnya bekerja untuk organisasi bukan lebih mementingkan pada apa yang mereka dapat.
Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa seseorang dengan gaji yang tinggi masih juga berkeinginan untuk pindah bekerja di tempat lain. Seseorang yang benar-benar ingin bekerja, akan bekerja dengan baik meskipun tanpa pengawasan dari atasannya dan juga mereka akan bekerja bukan karena perasaan takut tetapi lebih pada dorongan dari dalam dirinya untuk kerja yang tinggi akan menganggap bekerja sebagai sesuatu hal yang menyenangkan bukan hal yang menyengsarakan.
2.      Kekuatan untuk melawan frustasi.
Aspek ini menunjukkan adanya kekuatan seseorang untuk selalu konstruktif walaupun sedang mengalami kegagalan yang ditemuinya dalam bekerja. Seseorang yang memiliki semangat kerja yang tinggi tentunya tidak akan memilih sikap yang pesimis apabila menemui kesulitan dalam pekerjaannya.
3.      Kualitas untuk bertahan.
Aspek ini tidak langsung menyatakan seseorang yang mempunyai semangat kerja yang tinggi maka tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesukaran-kesukaran di dalam pekerjaannya. Ini berarti adanya ketekunan dan keyakinan penuh dalam dirinya. Gaji ataupun insentif yang tinggi yang diberikan oleh perusahaan mampu meningkatkan semangat kerja karyawan, dan berpikir panjang jika ingin keluar dari perusahaan.
Keyakinan ini menunjukkan bahwa seseorang yang mempunyai energi dan kepercayaan untuk memandang masa yang akan datang dengan baik, hal inilah yang meningkatkan kualitas untuk bertahan. Ketekunan mencerminkan seseorang memiliki kesungguhan dalam bekerja.
4.      Semangat kelompok.
Semangat kelompok menggambarkan hubungan antar karyawan. Dengan adanya semangat kerja maka karyawan akan saling bekerja sama, tolong-menolong, dan tidak saling bersaing untuk menjatuhkan. Semangat kerja menunjukkan adanya kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain agar orang lain dapat mencapai tujuan bersama. Lingkungan kerja yang baik, menciptakan suasana kerja yang baik pula, kebersamaan diantara karyawan dengan membagi pekerjaan secara adil mampu meningkatkan semangat kerja bagi karyawan itu sendiri.





  




Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen diakses tanggal 5 Oktober 2019 pukul 19.34 WIB
https://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_manusia diakses tanggal 5 Oktober 2019 pukul 20.15 WIB

Jumat, 31 Mei 2019

Tugas Bahasa Inggris Bisnis 2

MONEY

In life in the world today, we cannot escape the word "money". Money as a medium of exchange that is generally accepted and as a means of payment for the purchase of something can be in the form of goods or services that can be done at the same time and as a hoarder of wealth.
Money seems to have ingrained in our daily lives. Even today most young children are aware of "money". Money is a source of goodness and can also be a source of evil, but money is not the most important. Today, money has undermined human life. Many of us only think of money.
There are so many of us as human beings who are often deceived when money is a source of goodness and money is a source of badness. [1] We can any undertakes with money. [2] Money has make us unconscious in appraise. [3] Money is indeed a very intoxicating weapon. With money we can be seen as being a human being who is very good in the eyes of others. With money we will be praised and considered as gods of help regardless without any motives on the reverse side.
Even with cheating money we can remove the ugliness and mistakes of the money. With money it can also blind humans to see things with a view of money. In general, when we are generous with the money, we will easily be seen as good people. Conversely, when we are stingy or bribe, we will be seen as bad people.

Tenses :
[1] Simple Present Tense
[2] Present Perfect Tense
[3] Present Continous Tense

Kamis, 13 Desember 2018

Jumat, 16 November 2018

Business Complaint

One day Mr. Yoga bought furniture in the form of a bookcase in one of the furniture in the Jakarta area called Furniture Abadi. Mr. Yoga ordered the bookshelf on Saturday, October 6, 2018 through online on the Furniture Abadi official website, but when the goods arrived at Pak Yoga's house, the items sent were not in accordance with Mr. Yoga order and there was damage to the foot of the bookcase.

Complain I
Mr. Yoga feels disappointed over the negligence of Furniture Abadi in checking items to be sent to customers. Mr. Yoga feels disappointed over the negligence of Furniture Abadi in checking items to be sent to customers.
Furniture Abadi employees: Good afternoon Abadi Furniture is there anything I can help?
Mr. Yoga: Good afternoon, I am a yoga customer who on Saturday 6 October 2018 ordered goods in the form of a bookshelf through Furnite's Abadi official website. But when I received the item it was not in accordance with the order and after I checked it turned out there was damage on the foot of the bookshelf.
Employee 1: Good sir, thank you for reporting this incident, for a more clear complaint please come back to our office to meet with Banu as one of the employees at Furniture Abadi for you to explain in more detail about the damage that happened to the item you received.
After reporting the problem by telephone, Mr. Yoga photographed the damaged leg of the bookcase to later prove to the Abadi Furniture party.
Complain II
On October 8, 2018 to be exact on Monday, Mr. Yoga came to  Furniture's Abadi place to make complaints more clearly and met with Banu as the employee who received the call when Mr. Yoga made the initial complaint. After, meeting with Mr. Banu and Mr. Yoga provided proof of purchase along with a photo of the damaged product. But at that time Mr. Yoga's complaint process was not processed directly, Mr. Yoga was asked to leave his cellphone number to be contacted again.
Complain III
Seven days later, Mr. Yoga did not get news from Furniture Abadi about the complaint process he delivered. Finally, Mr. Yoga decided to come back to Furniture Abadi to ask about the complaint process. When he arrived at the Furniture Abadi, Mr. Yoga decided to immediately meet with the owner of Furniture Abadi.
Yoga: Good morning sir, can I meet the owner Furniture Abadi?
Employee 2: Good morning sir, do you have an appointment in advance?
Yoga: not, but a week ago I came to complain about the product that was sent on Sunday,                    October 7, 2018 but until now there has been no news on how the process will proceed.
Employee 2: who was with you before?
Yoga: With Yoga.
Employee 2: Okay sir, I check for a while.

Then, Mr. Yoga left the customer service desk. But after half an hour waiting for Mr. Yoga not to get certainty from Furniture Abadi because  Furniture Abadi employees are still waiting for approval from the owner of Furniture Abadi.
Yoga: How about mas, I have patiently waited but there is also no certainty. I want to meet with the owner of Furniture Abadi. I complained for a long time but until now I have not received certainty about the process of my complaint.

After Mr. Yoga met with customer service to ask for certainty again, finally Mr. Yoga met the owner of Furniture Abadi. Owner Furniture Abadi offers to replace the damaged product with the same product that day and Mr. Yoga agrees with the decision taken by the owner of Furniture Abadi. The owner of Furniture Abadi apologized for the incident experienced by Mr. Yoga.

At lunch break, the employees talked about complaints from customers who claimed the product they bought was damaged. One employee told me that this morning there was a customer complaining about a broken bookshelf product named Mr. Yoga. The customer had come to the store twice and his second arrival this time with an angry face wanting to meet with the  furniture abadi store owner. And finally the furniture abadi shop owner met with yoga and apologized for the damage to the product in the countryside when sent to the house of the Mr. Yoga and replaced the new bookshelf product.


The next day Mr. Yoga complained that the product he sent was damaged. Owner furniture abadi held a meeting with their employees to discuss the development of their furniture stores and products. On October 15, 2018 at 10:00 the meeting began which was led by owner furniture abadi. In his meeting discussed several things. Owner furniture abadi instruct all their employees to check or check all products, especially on shipping between products so that when the product is delivered to the customer’s home the product sent does not occur.


Group 5:
1.      Ade Putri Rahayu (20216105)
2.      Mufti Ramdhani (24216538)
3.      Muhamad Rahmadan (24216617)
4.      Putri Giannila Nurfatihah (25216854)
5.      Ratu Ayu Febia (26216103)
6.      Zulia Dewi Kurniawati (27216954)

Jumat, 28 September 2018

Business Letter

PT JAYA ABADI
Jalan Pandenglang, Bogor
Phone (021) 654785453
email: jayaabadi@gmail.com

Bogor, 28 September 2018

Number         :
Attachment : 1 Sheet
Subject : Offering Office Furniture Items

Dear Mrs.Siska,
Director of PT SINAR MITRA
Jalan Imam Bonjol, North Jakarta

With respect,
In connection with this offer letter, PT JAYA ABADI would like to offer office furniture items as follows:
1. Computer desk
2. Cabinets
3. Chairs and work tables
4. Living room tables and sofas

Therefore, I intend to offer furniture items that we produce to you. As for the types of furniture items that we have, we have attached them together with this letter.

We hope you are interested in our products. If you are interested in our products, we will give a 15% discount for the first purchase. For further information, please contact our hotline (021) 877421322.

Thank you for your attention.


Sincerely,
Director of PT. JAYA ABADI



Zulia Dewi Kurniawati


2. Surat penawaran ini, saya buat bertujuan untuk memperkenalkan produk furniture kami, dan PT SINAR MITRA tertarik untuk memesan dan membeli barang tersebut.
( This offer letter, I made it is intended to introduce our furniture products, and PT SINAR MITRA is interested in ordering and buying these items.)

3. Why did I make a letter of offer for this furniture, because this letter contains information about our product offerings while promoting our furniture products.